Tampilkan postingan dengan label tax amnesty. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tax amnesty. Tampilkan semua postingan

DPR Tutup Masa Sidang tak satupun menghasilkan Pengesahan RUU

21.44.00 Add Comment

BlogDetik86, Jakarta- Masa Sidang IV Tahun 2015-2016 DPR ditutup dalam sidang paripurna Jumat (29/4). Dengan berakhirnya masa sidang, maka DPR akan menjalani masa reses yang akan berlangsung hingga 17 Mei 2016 mendatang.
Dalam penutupan masa sidang kali ini, tak ada undang-undang yang bisa disahkan DPR. RUUTax Amnesty, RUU Pilkada,dan RUU Terorisme yang seharusnya sudah sangat mendesak untuk disahkan masih dalam proses pembahasan panjang antara pemerintah dan DPR.
“Nanti setelah reses tanggal 18 Mei mendatang dua RUU yakni Tax Amnesty dan Pilkada akan segera kami bahas. Dua RUU menjadi sangat penting supaya tidak mengganggu proses pilkada,” ujar Ketua DPR Ade Komarudin di kompleks parlemen Senayan Jakarta, Jumat (29/4).
Ade menyatakan, pembentukan Panja RUU Tax Amnesty baru dilakukan tadi malam. Namun dia yakin setelah reses pembahasan di panja akan segera tuntas untuk selanjutnya disahkan di paripurna.
Sementara revisi UU Pilkada tinggal menyamakan persepsi dengan pemerintah. Dia juga berharap revisi UU Pilkada tidak akan mengganggu tahapan proses Pilkada. “Panja itu (bekerja) nggak lama kok. Pasal itu nggak banyak. Temen-teman bilang pasalnya tidak banyak. Cuma memerlukan bobot materi yang berat. Itu yang buat lama,” katanya.
Politisi Partai Golkar itu mengatakan, tidak adanya RUU yang disahkan menjadi UU dalam masa sidang ke IV tidak perlu dipermasalahkan. Sebab, pekerjaan DPR bukan hanya soal legislasi. “Masa sidang hanya tiga minggu, waktunya sangat pendek. Itu saja pilkada nggak dapat, terlalu pendek. Dan kita kerjaannya ga cuma legislasi saja,” katanya.
Ade optimistis penyelesaian kedua RUU itu bakal dikebut saat masa reses. Pembahasan RUUTax Amnesty diperkirakan tidak akan memakan waktu lama karena roses pembahasannya sudah dimulai.
Anggota Komisi II DPR dari Fraksi PAN, Yandri Susanto mengatakan, pembahasan revisi UU Pilkada akan dilanjutkan setelah masa reses 17 Mei 2016 mendatang. Penundaan pembahasan itu karena masing-masing pihak pemerintah dan DPR belum menemui kata sepakat terkait sejumlah pasal dalam revisi UU Pilkada tersebut. “Kami sepakat RUU Pilkada tidak akan dibahas masa sidang ini. Di rapat paripurna RUU Pilkada ini tak akan disahkan,” kata Yandri.
Setelah masa reses selesai 17 Mei mendatang, kata Yandri, Komisi II akan langsung melanjutkan pembahasan. Padahal, sebelumnya target revisi UU Pilkada ini akan rampung dan disahkan pada Jumat (29/4) hari ini.
Sejumlah pasal yang menjadi perdebatan antara pemerintah dan DPR. Pertama adalah soal persyaratan dukungan bagi calon independen. “DPR dan pemerintah telah sepakat bahwa syarat bagi calon independen tidak diperberat. Namun syarat independen harus berkualitas. Jangan sampai beli KTP di kredit motor. Pastikan betul-betul diverifikasi fisiknya. Dipastikan mereka mendukung dalam kondisi sadar,” katanya.
Untuk syarat calon independen, PAN setuju 6,5-10 persen dari jumlah daftar pemilih tetap (DPT) atau disamaratakan menjadi 10 persen. Sedangkan, syarat dukungan bagi calon dari partai politik juga menjadi perdebatan. Dua opsi yang berkembang adalah antara 20-25 kursi atau 15-20 kursi di parlemen.beritasatu.com
baca juga :

Hari Ini PP Pemuda Muhammadiyah Laporkan Ruhut ke MKD

Inilah hebatnya 16 Peraturan Baru untuk Penikmat Kebijakan Ekonomi XII di era Jokowi

Wow!!! Jokowi: 2017, Kemudahan Berusaha di Indonesia Lampaui Vietnam

5 kali pemeriksaan KPK, M taufik mau merespon wartawan

Inilah Pandangan bijak NU terhadap pemimpin non muslim

Presiden Kritik Proses Mengurus STNK yang Tidak Efisien

Ust Yusuf Mansur bertemu dengan Yusril titip nasib!!!

Breaking News!!!Innalillah, Mantan Imam Besar Masjid Istiqlal, Ali Mustafa Ya'qub Wafat

Gagal Lantik Pimpinan Komisi VIII,Legitimasi Politik Fahri Hamzah Tergerus




setelah disindir Jokowi mengenai Tax Amnesty,ini reaksi DPR.

20.34.00 Add Comment

BlogDetik86 – Ketua DPR RI Ade Komarudin mengatakan komitmennya terhadap penyelesaian RUU tentang Pengampunan Pajak atau tax amnesty menjadi undang-undang sebagai upaya untuk mengantisipasi melambatnya pergerakan perekonomian dunia.

Ini dalam rangka dewan mengantisipasi melambatnya perekonomian dunia. Makanya, sampai kini Komisi XI sebagai leading sektornya masih terus bekerja,” kata Ade di pressroom DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (27/4).

Oleh karena itu, lanjut Ade, pihaknya sudah ambil ancang-ancang mengenai kejelasan nasib RUU ini.

“Insya Allah, pada pertengahan Mei 2016 dalam lanjutkan rapat kerja dengan pemerintah kita ambil keputusan konkrit antara lain menetapkan panitia kerja disusul dengan menyusun DIM,” tegasnya.
Lebih lanjut, politikus Partai Golkar ini menegaskan pihaknya tidak akan gentar dengan berbagai tudingan terhadap Komisi IX DPR antara lain adanya isu aliran dana ratusan miliar ke Komisi XI.

“Saya tidak mau komentar banyak soal tudingan-tudingan itu. Saya tak gentar dengan tudingan seperti," tegasnya.

Ade malah meminta aparat penegak hukum menelusurinya. "Tapi jangan ganggu temen-temen di Komisi XI yang kini sedang bekerja keras sesuai dengan kewenangannya untuk mengantisipasi efek negatif perekoniam global yang melambat ini," pungkasnya.Jpnn.com

baca juga :

Ust Yusuf Mansur bertemu dengan Yusril titip nasib!!!

Breaking News!!!Innalillah, Mantan Imam Besar Masjid Istiqlal, Ali Mustafa Ya'qub Wafat

Gagal Lantik Pimpinan Komisi VIII,Legitimasi Politik Fahri Hamzah Tergerus


bertele-tele Jokowi ancam DPR akan keluarkan Peraturan Pemerintah,begini ancamannya

22.19.00 Add Comment

BlogDetik86: Presiden Joko Widodo mengancam bakal mengeluarkan Peraturan Presiden (PP) tentang Tax Amnesty (pengampunan pajak) apabila proses pembahasan RUU di DPR mandek. Hingga saat ini, lembaga legislatif terkesan menunda-nunda pembahasan RUU Tax Amnesty.

"Tetapi kita sudah siapkan PP kalau tax amnesty di sana punya masalah," tegas Jokowi saat menghadiri IESE 2016 di Convention Exhibition (ICE) BSD, Tangerang, Banten, Rabu (27/4/2016).
Jokowi menegaskan, pemerintah tidak terlalu perlu menunggu DPR mengesahkan RUU menjadi UU Tax Amnesty. Masih banyak opsi lain untuk menggolkan kebijakan baru itu.

"Kita tak harus tergantung pada UU Tax Amnesty," ujar dia.
Sebelumnya, pemerintah dan DPR sepakat melanjutkan pembahasan RUU Tax Amnesty. Namun, proses pembahasan RUU tersebut diprediksi kembali mundur.

Wakil Ketua DPR Agus Hermanto sempat mengatakan sebagian fraksi masih ingin mempelajari soal ini.  Pembahasan dirasa sulit dilakukan pada masa sidang ini karena DPR akan memasuki masa reses 29 April.

Sementara itu, Ketua DPR Ade Komarudin menjamin pihaknya segera merampungkan RUU Tax Amnesty. Ia menjamin Panja Tax Amnesty terbentuk, Rabu 27 April. Ade memastikan Panja pasti bekerja selama masa reses.
Jokowi tak main-masin soal tax amnesty. Dalam rapat terbatas soal pengampunan pajak Senin 25 April, Jokowi kembali menegaskan posisi pemerintah. Tax amnesty dinilai penting untuk perekonomian Indonesia.

Presiden ke-7 Indonesia ini memperkirakan akan ada uang berbondong-bondong yang masuk ke Indonesia dari luar negeri begitu tax amnesty diterapkan. Ia juga meminta kementerian terakit menyiapkan instrumen investasi. Instrumen itu dipersiapkan untuk arus masuk uang yang diprediksi bakal mengalir deras, baik investasi portofolio atau langsung.Metronews.com.
baca juga :

Hahahaha lucu, ini kriteria cagub Gerindra.

Usai disemprot Mamah Dedeh, Yusril Tambah Galau Ikut Pilkada 2017

Tegas!!!, Jokowi: Stop Proyek Survei!

Takut Miskin, Ini Cara Licik Singapura Menjegal Kebijakan Presiden Jokowi

22.03.00 Add Comment


BlogDetik86, Kebijakan pengampunan pajak atau tax amnesty yang di gagas oleh Presiden Jokowi nyata nya mampu membuat negara-negara lain kebingungan. Salah satu negara yang sangat resah dengan kebijakan Presiden Jokowi adalah Singapura.

Pasalnya, Singapura menjadi tempat favorit pengusaha-pengusaha Indonesia untuk menyimpan hartanya disana. Walhasil, dengan banyaknya dana yang masuk ke Singapura perekonomian negara tersebut pun terus berkembang.
Demi menjegal kebijakan Presiden Jokowi, kabarnya Singapura tengah menyiapkan kebijakan untuk melawan program Pengampunan Pajak (Tax Amnesty) yang direncanakan Indonesia. Negara kecil tersebut melakukan berbagai upaya untuk menjegal repatriasi modal orang-orang Indonesia yang selama ini diparkir di Singapura.

Hal ini di sampaikan oleh Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) S‎uryadi Sasmito. Menurutnya, Singapura menjadi negara yang sangat agresif mempersiapkan strategi untuk menjegal implementasi pengampunan pajak oleh Indonesia. Tujuannya untuk membentengi keluarnya dana-dana orang Indonesia yang ditaksir mencapai lebih dari Rp 3.000 triliun di Singapura.

Menurut Suryadi, untuk membentengi dan menggagalkan kebijakan Jokowi, strategi kebijakan yang sudah diumumkan oleh Singapura adalah menjanjikan warga negara asing termasuk orang Indonesia yang menyimpan uang di Singapura bisa menjadi warga negara Singapura. Dengan harapan seluruh orang kaya yang menyimpan uangnya di negeri Singa itu tidak akan pernah pulang ke kampung halamannya termasuk Indonesia.

Senada dengan Suryadi, Pengamat Ekonomi Aviliani mengharapkan, pemerintah dan DPR mempercepat pemberlakuan tax amnesty di Indonesia. Pasalnya, jika tidak dilakukan dalam waktu dekat, sejumlah negara yang menjadi tempat menampung uang orang Indonesia, akan mempersiapkan strategi untuk ‘melawan’ kebijakan tax amnesty.

Aviliani menjelaskan, saat ini banyak uang milik orang Indonesia yang terparkir di Singapura. Dengan adanya tax amnesty, uang tersebut dipastikan akan banyak yang kembali ke Indonesia.

Dengan menjadi warga Singapura, ketika era keterbukaan informasi (Automatic Exchange of Information/AEoI) diberlakukan, pemerintahan Jokowi tidak bisa menjatuhkan sanksi denda pajak hingga 48% sekalipun. Akibatnya, Indonesia akan terus menjadi negara miskin dan tidak mampu mengalahkan Singapura seperti yang diinginkan antek-antek di dalam negeri.

“Makanya ini (tax amnesty) harus cepat. Kalau tidak uang itu nantinya tidak akan bisa kembali ke Indonesia dan tetap tersimpan di negara lain,” ujar Aviliani dalam diskusi Prospek Perekonomian Indonesia dan Regulasi Perpajakan 2016 di Balai Kartini, Kamis 10 Maret.


Menurut Aviliani, dari data yang dihimpun, terdapat sekitar 50 juta orang yang masuk dalam kalangan kaya. Sedangkan 100 juta orang lainnya adalah kalangan menengah. Dengan angka ini, seharusnya 50 juta orang ini bisa menjadi peserta wajib pajak. Sayangnya kalangan kaya ini nyatanya tidak semua membayar pajak.

Suryadi memperkirakan, dari Rp 11.400 triliun dana orang Indonesia di negara-negara suaka pajak, mampu ditarik sekitar Rp 2.000 triliun melalui pengampunan pajak. Dana-dana tersebut bisa digunakan untuk investasi pembangunan infrastruktur untuk mendorong perekonomian nasional. Dengan begitu, ekonomi Indonesia bisa menyerap tenaga kerja lebih besar.

Namun sayangnya, tak sedikit orang kaya di negeri ini yang tak mempunyai jiwa nasionalis dengan tidak memenuhi kewajiban membayar pajak dan malah menyimpan uangnya ke negara lain.Hello-pet.com

baca juga :

Elektabilitas turun tapi popularitas Ahok naik ini penyebabnya.